BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Eucheuma sp)

Salah satu sumberdaya hayati laut Indonesia yang cukup potensial adalah rumput laut atau dikenal dengan sebutan lain seaweed. Salah satu dari jenis rumput laut yang sudah dibudidayakan secara intensif adalah Eucheuma sp di wilayah perairan pantai.

Hasil proses ekstraksi rumput laut banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan atau sebagai bahan tambahan untuk industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat dan lain-lain. Selain itu digunakan pula sebagai pupuk hijau dan komponen pakan ternak maupun ikan.

Dengan semakin luasnya pemanfaatan hasil olahan rumput laut dalam berbagai industri, maka semakin meningkat pula kebutuhan akan rumput laut Eucheuma sp. sebagai bahan baku. Selain untuk kebutuhan ekspor, pangsa pasar dalam negeri cukup penting karena selama ini industri pengolahan rumput laut sering mengeluh kekurangan bahan baku. Melihat peluang tersebut, pengembangan komoditas rumput laut memiIiki prospek yang cerah memiIiki nilai ekonomis yang penting dalam menunjang pembangunan perikanan baik kaitannya dengan peningkatan ekspor non migas, penyediaan bahan baku industri dalam negeri, peningkatan konsumsi dalam negeri maupun meningkatkan pendapatan petani/nelayan serta memperluas lapangan kerja.

Perencanaan pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia, masih banyak mengalami hambatan. Salah satu kendalanya adalah lokasi perairan yang kurang cocok bagi kegiatan budidaya laut dan juga data parameter kualitas perairan yang tidak sesuai. (Ahmad et al., 1995 dalam Sudrajat et al., 1995). Guna keberhasilan budidaya rumput laut, maka penentuan lokasi yang sesuai dengan kondisi perairan, jenis komoditas yang unggul, metode budidaya yang tepat dan dekat dengan pusat konsumen perlu menjadi perhatian.

PROSEDUR PELAKSANAAN

A. Pra Budidaya

1. Bibit

  • bibit harus dipilih dan thallus yang muda, segar, keras, tidak layu dan kental.
  • Berat bibit pada awal penanaman + 100 gram per ikat
  • Bibit sebaiknya disimpan di tempat yang teduh dan terindung dari sinar matahari atau direndam di laut dengan menggunakan kantong jaring.

2. Konstruksi

Pada tahap pra-budidaya adalah mengenai pemasangan konstruksi budidaya dan bibit yang akan dibudidayakan pada konstruksi tersebut. Jenis metode budidaya yang digunakan adalah metode long line yaitu sebuah metode budidaya rumput laut yang menggunakan tali panjang yang kemudian dibentangkan dipermukaan perairan sebagai tempat untuk bibit rumput laut tersebut. Teknik budidaya rumput laut dengan metode ini menggunakan tali sepanjang 100 meter yang pada kedua ujungnya diberi jangkar dan pelampung besar, setiap 25 meter diberi pelampung utama yang terbuat dari drum plastik atau styrofoam. Pada setiap jarak 5 meter diberi pelampung berupa potongan styrofoam/karet sandal atau botol aqua bekas 500 ml dengan luasan area sebesar 30 x 100 m pada 1 blok (rencana akan dibuat 2 blok dengan ukuran yang sama).

Pada saat pemasangan tali utama harus diperhatikan arah arus pada posisi sejajar atau sedikit menyudut untuk menghindari terjadinya belitan tali satu dengan lainnya. Bibit rumput laut sebanyak 50 -100 gram diikatkan pada sepanjang tali dengan jarak antar titik lebih kurang 25 Cm. Jarak antara tali satu dalam satu blok 0,5 m dan jarak antar blok 1 m dengan mempertimbangkan kondisi arus dan gelombang setempat. Dalam satu blok terdapat 4 tali yang berfungsi untuk jalur sampan pengontrolan (jika dibutuhkan). Dengan demikian untuk satu blok wadah konstruksi budidaya dapat dipasang 60 tali, di mana setiap tali dapat di tanaman 400 titik atau diperoleh 24.000 titik, sehingga untuk 2 blok wadah konstruksi budidaya diperoleh 48.000 titik. Apabila berat bibit awal yang di tanaman antara 50-100 gram, maka jumlah bibit yang dibutuhkan sebesar 1.200 – 2.400 kg per 1 blok wadah konstruksi budidaya, sehingga untuk 2 blok wadah konstruksi budidaya diperlukan bibit sebesar 2.400 – 4.800 kg.

B. Budidaya

1. Sampling

Untuk mengetahui pertumbuhan rumput laut yang ditanam maka selama satu periode penanaman perlu dilakukan beberapa kali sampling. Sampling pertama dilakukan pada saat bibit akan ditanam untuk mengetahui berat awal. Sampling kedua dilakukan setelah tanaman berumur tiga minggu (21 hari). Sedangkan sampling ketiga dilakukan pada saat panen. Suatu kegiatan budidaya rumput laut dikatakan baik apabila laju pertumbuhan rata-rata per hari minimal 3 %. Untuk mengetahui presentase laju pertumbuhan perhari dapat menggunakan rumus:

2. Pemeliharaan

Memelihara rumput laut berarti mengawasi terus menerus, konstruksi budidaya dan tanamannya. Pemeliharaan dilakukan pada saat ombak besar maupun saat laut tenang. Kerusakan patok, jangkar, tali ris, dan tali ris utama yang disebabkan oleh ombak yang besar, atau daya tahannya menurun harus segera diperbaiki. Bila ditunda akan berakibat makin banyak yang hilang sehingga kerugian lebih besar tidak bisa dihindari. Kotoran atau debu air sering melekat pada tanaman, yaitu saat musim laut tenang. Pada saat seperti ini tanaman harus sering digoyang-goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran/debu yang melekat. Kotoran yang melekat dapat menggangu proses metabolisme sehingga laju pertumbuhan menurun. Hal-hal yang harus dsilakukan dalam pemeliharaan adalah :

  • Bersihkan tanaman dari tumbuhan dan lumpur yang mengganggu, sehingga tidak menghalangi tanaman dari sinar matahari dan mendapatkan makanan.
  • Jika ada sampah yang menempel, angkat tali perlahan, agar sampahsampah yang menyangkut bisa larut kembali.
  • Jika ada tali bentangan yang lepas ikatannya, sudah lapuk atau putus, segera diperbaiki dengan cara mengencangkan ikatan atau mengganti dengan tali baru.

C. Pasca Budidaya

1. Panen

Panen dilakukan setelah rumput laut mencapai umur lebih kurang 45 hari dengan hasil panen rumput laut basah sebesar antara 19.200 – 38.400 kg (asumsi 1 rumpun bibit menjadi 8 kali lipat saat panen), kemudian di kurangi dengan persediaan benih untuk musim tanam berikutnya sebanyak antara 2.400 kg – 4.800 kg (12,5% dari panen rumput laut basah). Maka hasil panen basah yang siap untuk dikeringkan sebesar antara 16.800 kg – 38.400 kg atau diperoleh hasil panen rumput laut kering 2.100 – 4.200 kg (konversi dari basah menjadi kering 8 : 1).

2. Pengeringan dan Pengepakan

Pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara menggunakan alat pengering (oven) atau secara alami dengan mcnjemur dengan sinar matahari. Yang murah dan praktis adalah dengan cara dijemur dengan sinar matahari selama 2 -3 hari, tergantung kondisi panas matahari. Dalam penjemuran ini harus menggunakan alas, seperti para-para, terpal plastik dan lain-lain untuk menghindari tercampurnya rumput laut hasil panen dengan kotoran seperti pasir atau kerikil dan lain-lain. Langkah-langkah pengolahan menjadi bahan baku atau rumput laut kering adalah sebagai berikut :

  • Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan, kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain.
  • Setelah bersih rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup baik penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut dijemur di atas para-para di lokasi yang tidak berdebu dan tidak boleh bertumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan telah keluarnya garam.
  • Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku agar rumput laut kering dicuci dengan air tawar, sedangkan untuk bahan baku karagenan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar 28%.Bila dalam proses pengeringan hujan turun, maka rumput laut dapat disimpan pada rak-rak tetapi diusahakan diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang diambil karagenannya tidak boleh terkena air tawar, karena air tawar dapat melarutkan karaginan.
  • Rumput laut kering setelah pengeringan kedua, kemudian diayak untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal.

Setelah kering dan bersih dari segala macam kotoran maka rumput laut dimasukkan kedalam karung plastik untuk kemudian siap dijual atau disimpan di gudang. Pada waktu penyimpanan hindari kontaminasi dengan minyak atau air tawar. Proses penjemuran dan penyimpanan sangat perlu mendapat perhatian, karena meskipun hasil panennya baik akan tetapi bila penanganan pasca panennya kurang baik maka akan mengurangi kualitas rumput laut.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

CTD (Conductivity Temperature Depth)

CTD (Conductivity Temperature Depth)

CTD (Conductivity Temperature Depth) is instrument to measure water characteristics like temperature, salinity, pressure, depth, and density. Generally, system of CTD consists of input data unit, processing system, and output unit.

Input data unit consists of a CTD sensor, rosette, sample bottle, connection cable, etc. The function of sensor are to measure parameter ocean water physic characteristics. It  composed of pressure sensor, temperature sensor, and conductivity sensor. Sample bottle to disposed water sample. Rosette to setting of bottle closing. Connection cable to support, and also as signal conductor.

Processing unit consists of a controller CTDS (CTD’s sensor) and computer composed of software. Controller unit to processing CTD’s signal, appearing result of measured, also to changes analog signal to digital. CTD controlled all of sample activity and calibration. Every pressing of function button of menu, so printer will drawing position, depth, salinity, conductivity, and temperature, so operasional activity chronology of CTD can be recorded.

Sensor are tools to change physics characteristic to electric signal. CTD concists of  3 sensors. There are pressure sensor, temperature sensore, and conductivity sensore.

  1. Pressure sensor

Presssure sensor to transfer the connection between pressure and depth. This sensor consists of resistance as wheatstone bridge or strain gauge. Strain gauge are resistence tools. This resistance will changed when getting pressure. Also it controlling the role when getting energy as physics like pressure, weight, current, etc.

  1. Temperature sensor

Temperature sensor giving effect  to resistance, as thermistor. Thermistor (thermal resistance) is semiconductor to resistance with high resistance temperature coefficient  and usually negative. This tools formed of oxcide metal as Mg, nickel, cobalt, etc.

  1. Conductivity Sensor

Conductivity sensor to detected conductivity value in the water. This sensor consists of cavity tube, and 4 electrode-platinum-rhodium therminal in the backside. As a sensore exceeded conductivity value, so average of result processing in the measure will exceeded low pass filter. This sensor will begin measuring when the tools move on to the water until desirable position. Actually, this sensor measuring conductivity value to knows salinity value.

Measuring Principle

In principle, measuring technic of CTD are to directing signal and getting signal to detected a quantity, then getting data from multiplever methode and decode, then rending data with encoder methode to transferred to serial data stream with sent to control unit via cable.

CTD descend to water column by use of winch with electric cable set, slowly until near of bottom layer then removed to surface. CTD has 3 sensor, there are pressure sensor, temperature sensor, and conductivity sensor. Pressure measuring of CTD using strain gauge pressure monitor or quartz crystal.

Pressure will noted  in decibar then the pressure converted to depth in meter. Temperature sensor contained in CTD, using thermistor, platinum thermometer or their combination. Inductive cell contained in CTD, used to sensor salinity. Measuring data noted in digital data. The data saved in CTD and transferred to computer after CTD take away from water or transfer data can doing continous during interface from CTD to computer.

How CTD working ?

CTD put into rosette. Then probe connect to electric cable from rosette. The weight of rosette is about 25 Kg and length of cable is about 5 meter to bonding probe to sleeve of frame.

Step of CTD working :

  1. Begin from acusission data program, equipped with profile to indentificated data. Already the tools will be used and put the bottle accord with installation procedure.
  2. After the rosette put into the position and CTD (Probe) put into it, instrument will move to beside of ship, then connect to connection cables, and then already to  go down.
  3. After CTD already to go down, setting the control unit to On condition. When the control unit on the stocks, instruments (Rosette and probe) already to go down slowly approaching of water surface.
  4. CTD begin to go down to the water slowly. In tis time, the sets of probe and control unit interacted to recorded data to signal analog on the type recorder. In this time also procedure of accusission began and rosette frame on CTD go down with particular speed until desirable depth.
  5. when CTD probe go down, transmited data to control unit also began.
  6. after getting data , stop received datafrom the probe. Then stop the recording data from recorder. And then pull to the water surface, with nothing transmitter data from CTD.
  7. after accusission data unit on the Off position, and instrument put into the ship, press End of Profile buton and stop the accusission program. Data can connecting to personal computer directly, or recorded by tape recorder.
  8. processing data is finished.

CTD and Rosette position

Deployment Rosette and CTD


Kelompok :

Winnie Hertikawati 230210070009,  Wiwin Kurniawati 230210070026, Sheila Zallesa 230210070036.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment